BERITASATU.COM - Dunia virtual bisa mempengaruhi dunia nyata, terutama jika terjadi persaingan ketat dalam pemilihan umum
Hanya
dengan satu pesan di Facebook pada hari pemilihan anggota konggres di
Amerika Serikat pada tahun 2010 lalu, sekitar sepertiga dari sejuta
orang akhirnya memutuskan untuk datang dan memilij di tempat pemungutan
suara.
Karena hasil itu para ilmuwan, Rabu (13/9), mengklaim bahwa
Facebook menjadi alat yang lebih efektif untuk mendorong masyarakat
berpartisipasi dalam proses politik.
Dalam penelitian yang disebut
sebgai eksperimen paling besar yang pernah digelar tentang media
sosial, ilmuwan-ilmuwan dari University of California, San Diego
mengtakan bahwa dorongan dari sahabat dalam jejaring internet bisa
membantu orang memberikan suaranya dalam pemilu di dunia nyata.
Penenlitian
bermula pada 2 November 2010, ketika 60 juta warga AS yang log in ke
Facebook hari itu mendapat pesan yang netral tentang pemiihan umum di
newsfeed akun mereka.
Pesan itu berisi pemberitahuan yang berbunyi
"Hari ini adalah Hari Pemilihan Umum" dan sebuah tombol yang bisa
diklik yang bertuliskan "Saya Sudah Memilih".
Jika tombol itu
diklik maka tautan di dalamnya akan mengarahkan pengguna ke website
perhitungan suara, yang akan menginformasikan berapa jumlah pengguna
Facebook yang telah memberikan suaranya dan sejumlah foto dari
teman-teman di Facebook yang telah memilih.
Kemudian ada sekitar
600.000 sukarelawan yang diminta untuk melihat pesan lain, yang sama
persis dengan pesan pertama. Hanya bedanya tombol yang tersedia di sana,
tetapi tidak dilengkapi dengan foto.
Kelompok ketiga, juga terdiri dari 600.000 orang, adalah kelompok kendali. Mereka tidak menerima pesan apa pun di Facebook.
Para peneliti kemudian melihat bagaimana perilaku para pemilih.
Mereka
melihat cacatan jumlah pemilih di tempat perhitungan suara - tetapi
tanpa mengungkap identitas para pengguna Facebook yang memilih atau
bagaimana mereka memilih.
Hasilnya ditemukan bahwa mereka yang
menerima "pesan sosial" itu 0,39 persen lebih ingin menggunakan hak
pilih mereka, ketimbang kelompok yang tidak menerima pesan. Dengan kata
lain, sekitar 60.000 tambahan suara dalam pemilu karena pemilih didorong
oleh pesan di media sosial.
Tetapi menurut mereka angka itu
sesungguhnya bisa berjumlah empat kali lipat karena adanya penularan
sosial di Facebook. Jadi, dengan asumsi itu, setidaknya terdapat
tambahan suara sebanyak 340.000 pada pemilihan konggres tahun 2010 itu
karena Facebook.
"Pengaruh sosial membuat semuanya berbeda dalam
mobilisasi politik," kata James Fowler pengajar ilmu politik pada
University of California, San Diego, AS yang memimpin penelitian itu.
Hasilnya,
menurut dia, menunjukan bahwa dunia virtual bisa mempengaruhi dunia
nyata, terutama jika terjadi persaingan ketat dalam pemilihan umum.
Copas dari : msn.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar